Forgot Password? | Register
    Navigasi Beranda arrow Seribu Lamunan
Seribu Lamunan
9
Terompet-terompet yang ditiup dan genderang yang ditabuh bersahut-sahutan di ramai jalanan. Sementara aku tak sempat tidur dengan sempurna hingga tak ada keterjagaan. Malam-malamku terasa sepi. Sepertinya aku berada dalam cangkang telur lain di luar telur yang Kau erami dan Kau tetaskan.
 
8
Aku mencari ide; aku memilih kata; tas hitam di atas tumpukan kardus. Ada. Telinga kiriku mendenging; bola lampu lima watt di kamar mandi menyala lampai. Ada. Sajadah sembahyang tergelar pasrah dalam bentuk dan warnanya yang bergairah. Ada. Jaket coklat tua yang bersahaja meninggalkan jejak tubuhku di sana. Ada. Kucing mengeong-ngeong menyambut ayam jago berkokok. Ada apakah? Tikus dan cecurut ribut dalam timbunan barang di kamarku yang bobrok; cecak di dinding berdecak seperti kagum. Tapi tentu bukan mengagumi diri sendiri, kan? Dua ekor kucing jantan bertengkar di pekarangan samping rumahku, berebut mendapatkan kucing betina; raungan mereka berdua merobek dada. Nenek yang telah lama jadi bunga ranjang memangil-manggil bapak, minta diantar kencing ke kamar mandi.

 
7
Andaikata tubuhku air, tentu tiada lagi ketakutan pada laut. Tentu aku akan bersahabat dengan gunung, lembah, rawa-rawa, udara, juga langit. Tubuh akan memanjang, melumer ke mana-mana. Tidak takut sendiri atau kedinginan. Menarilah tubuh dalam kerendahan saat ditampung apa saja. Menarilah tubuh di dalam telaga, sungai, gelas, panci, di atap rumah, atau di udara tipis malam hari. Menari kerendahan, menari berputar, menari berkisar. Aku ambruk, rebah, tanpa segan menempati berjuta wujud karena aku adalah unsur utama yang paling dibutuhkan, yang diteguk, yang membersihkan daki di tubuh semua wujud.
 
6
Cinta selalu terbalut oleh napsu. Namun cinta akan selalu berusaha melepaskan dirinya dari napsu. Cinta mendaki ke arah kesucian jiwa, sedang napsu melekat pada pikiran yang terus menggoda ke bawah. Kadangkala cinta melemah dan terbakar oleh amukan napsu ketika indera menjadi tidak terjaga. Cinta sejati yang tanpa syarat hanyalah milik orang-orang yang telah jenuh dengan perjalananya. Kemudian ia mulai berpuas diri dengan apa yang dimilikinya. Ketika ia mulai birahi dengan dirinya sendiri, saat itulah ia baru siap untuk benar-benar mencintai.
 
5
Hidup itu tai kucing. Tapi, kucing itu menelan sebutir mutiara.

 
4
Dari manakah ada bermula? Ada bermula dari ketiadaan. Namun ketiadaan itu pun ada.  Jika ketiadaan itu tidak ada, maka ada tidak bisa dilahirkan. Jadi, ketiadaan itu harus ada,  harus ada di mana-mana, tanpa batas, agar ada bisa mengada. Dan Tuhan itu ada—Ia berasal dari Ketiadaan. 
Di mana letaknya jiwa? Di jantung, kepala, atau aliran darah? Antara satu bagian tubuh dengan bagian tubuh yang lain saling berkaitan. Semuanya bergerak dan mengalir dalam ketunggalan. Ia hadir pula dalam bebatuan, air, tetumbuhan, hewan, dan manusia. Para pencinta melihat wajahNya di mana-mana.
 
Lagi...